Menulis dalam Islam merupakan suatu
kewajiban setelah perintah untuk membaca (belajar, meneliti dan menelaah).
Menulis berarti menyimpan apa yang telah kita baca dalam sebuah media yang bisa
diakses oleh siapa saja. Dalam perkembangannya, menulis memiliki peran yang
sangat urgent dalam sejarah kejayaan umat Islam beberapa abad silam.
Semua ulama yang menjadi arsitek kejayaan
Islam masa lalu adalah para penulis ulung yang telah menghasilkan berbagai buah
karya mereka yang sampai saat ini masih menjadi rujukan umat Islam sedunia
dalam berbagai disiplin keilmuan. Bahkan, Eropa yang kemajuannya hari ini telah
jauh meninggalkan dunia Islam ternyata pernah mengekor pada kemajuan umat Islam
masa silam. Dan berbagai kemunduran umat Islam dewasa ini bisa dipastikan
karena tradisi membaca dan menulis yang pernah dipopulerkan oleh para ulama
masa lalu telah ditinggalkan.
Menulis Sebagai Ibadah
Faktor yang harus dijadikan sebagai
pijakan dasar untuk menulis adalah orientasi yang jelas. Menulis harus ada
orientasi ke-akhiratan, artinya kegiatan menulis harus bisa bernilai ibadah.
Tatkala hal ini telah terpenuhi maka aktifitas menulis akan menjadi suatu
kenikmatan tersendiri yang bahkan akan membuat para penulis semakin termotivasi
untuk menulis.
Disamping itu, menulis merupakan pekerjaan
yang sangat mulia karena ia mengambil peran kenabian dalam hal menyampaikan
berbagai kebenaran yang masih tersembunyi kepada khalayak ramai/publik(umat). 4
(Empat) sifat Rasul adalah etika yang mesti dipenuhi oleh seorang penulis.
Pertama, ‘Shiddiq’ atau benar. Seorang penulis harus menyampaikan kebenaran
dalam isi tulisannya.
Kedua, ‘Tabligh’ atau menyampaikan.
Kegiatan menulis adalah bagian dari interpretasi dan transmisi sifat tabligh
ini. Disamping itu, kewajiban untuk menyampaikan bagi seorang penulis bisa
dimaknai sebagai etika membuat sebuah tulisan, agar sebuah tulisan bernilai
ibadah/pahala disisi Allah maka tulisan itu harus mengandung nilai kebenaran
dalam penyampaiannya.
Ketiga, ‘Amanah’ atau terpercaya. Tulisan
yang disajikan harus memenuhi kualifikasi amanah, hal ini bisa dilakukan jika
penulis itu sendiri adalah seorang yang memiliki karakteristik ‘amanah’ atau
terpercaya, artinya ia tidak hanya pandai menulis, menasehati atau mengkritik
orang lain, tapi juga berupaya agar ia mampu menyelaraskan antara perkataan dan
perbuatannya. Merupakan dosa besar jika memerintahkan orang lain mengerjakan
suatu kewajiban sementara dia sendiri tidak mengindahkannya.
Keempat, ‘Fathanah’ atau cerdas. Seorang
penulis harus memenuhi persyaratan ‘cerdas’ dalam menulis. Hal ini bisa
dipahami karena menulis tanpa ilmu akan menyebabkan berkurangnya unsur-unsur
kebenaran yang tersampaikan, atau bahkan jauh sama sekali dari kebenaran, dan
bisa diprediksi pada akhirnya syaithan-lah yang akan menjadi gurunya. Membaca
dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Menulis tanpa membaca
berarti kita menyampaikan sesuatu tanpa dasar yang valid dan otentik yang pada
satu waktu tertentu akan membuat kita menyampaikan suatu kekeliruan yang fatal.
Sebaliknya, membaca tanpa menulis berarti membiarkan apa yang ada di dalam otak
kita tak tereksplorasi dengan sempurna.
Tulisan Rancang Peradaban
Sebagaimana sudah dijelaskan diatas, bahwa menulis dalam Islam adalah
“kewajiban” kedua setelah perintah untuk “membaca”. Menulis berarti menyimpan
apa yang telah kita baca dalam sebuah media yang bisa diakses oleh siapa saja.
Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dengan tulisan,
kita bisa berdakwah(menyebarkan kebenaran), mengajari, menyebarkan ide dan
pemikiran, melontarkan gagasan, menyampaikan kritikan atau hanya sekedar
memberi tanggapan. Sebaliknya, dengan tulisan seseorang bisa juga menyebarkan
kebatilan, merusak moral, mem-provokasi, menghina, menghasut, memfitnah, dan
berbagai propaganda yang akan membawa kepada kehancuran lainnya.
Dengan tulisan, seseorang bisa mencoba
merancang dan merumuskan bentuk peradaban dan masa depan impian atau kehidupan
ideal yang didambakan. Banyak bukti sejarah yang membenarkan asumsi ini.
Misalnya; bagaimana dahsyatnya kekuatan novel ”Ayat-ayat Cinta” dan ”Ketika
Cinta Bertasbih” karya Habiburrahman El-Shirazy sanggup membius ribuan remaja
Muslim Indonesia, putra dan putri dengan berbagai pesan Islamnya, sehingga
banyak sekali diantara mereka yang bermimpi dan berjuang menjadi
jelmaan (reinkarnasi) tokoh-tokoh yang digambarkan dalam novel tersebut, seperti
Fahri, Azam dan sebagainya. Dalam novel tersebut mereka digambarkan sebagai
aktor yang benar-benar mengaktualisasikan nilai-nilai Islam ke dalam realita
kehidupan sesungguhnya. Pribadi mereka diungkapkan bak seorang aulia yang
memiliki akhlak paripurna.
Hasan Al-Banna pendiri organsisasi
”Ikhwanul Muslimin” di Mesir juga pernah menulis berbagai wasiatnya kepada umat
Islam. Tulisan-tulisan yang pada akhirnya dibukukan itu sanggup membangkitkan
semangat dan gelora pergerakan Islam(Harakah Islamiah) di berbagai
belahan penjuru dunia untuk bangkit mengejar ketertinggalan tanpa
melepaskan nilai-nilai Islam sebagai prinsip hidup yang konsepsional dan fundamental.
Kita tahu, bahwa kumpulan tulisan Hasan Al-Banna dalam bentuk surat wasiat yang
kemudian diberi nama ”Majmu’ Rasail” itu, ternyata sanggup membangkitkan
kembali semangat jihad umat Islam melawan berbagai bentuk penjajahan. Saat ini,
hampir semua pergerakan Islam di dunia lahir karena terinspirasi dari kekuatan
perjuangan, teladan dan surat wasiat Hasan Al-Banna tersebut.
Begitu juga buku-buku yang dikarang oleh
penulis berkaliber dunia lainnya, seperti; Yusuf Al-Qardhawy dan penulis
berkaliber dunia lainnya yang mengupas berbagai persoalan kekinian umat Islam.
Buku-buku beliau tersebut kita ketahui saat ini telah dijadikan sebagai
referensi (buku pegangan) wajib maupun sekedar buku pendukung materi kuliah oleh
para mahasiswa di berbagai perguruan tinggi Islam di hampir seluruh dunia.
Buku-buku tersebut memiliki kekuatan yang sangat dahsyat dalam rangka merintis
berbagai transformasi sosial dunia Islam ke arah yang lebih maju. Pun demikian
dengan tulisan atau opini-opini yang dimuat di berbagai media yang diyakini
juga memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam membawa umat ke arah
perubahan menuju Indonesia yang diimpikan.
Contoh lainnya adalah; Samuel Huntington
yang menulis ”disertasi” doktoralnya tentang ”Benturan Peradaban”, antara
peradaban Barat(Kristen, Yahudi dan sebagainya) dengan peradaban Dunia
Timur(Islam). Disertasi tersebut pada akhirnya kita ketahui menjadi rujukan
Dunia Barat dalam menilai dan menyikapi kebangkitan dunia Islam(as-shahwah
Islamiah). Huntington meyakini dan menulis angan-angannya bahwa setelah Amerika
memenangkan Perang Dunia II, maka lawan mereka berikutnya yang akan dan harus
dihadapi adalah ”umat Islam”. Efek besar dari tulisan (disertasi) Huntingtin
tersebut kini menjadi aksi nyata eksistensi dunia barat yang dirasa oleh hampir
semua umat Islam diseluruh bagian dunia. Hampir disemua lini dan segmentasi
tatanan kehidupan negara-negara Islam berada dibawah cengkeraman Amerika-Barat.
Bahkan, selain negera-negara Islam yang terjajah secara pendidikan, ekonomi,
akhlak-moral dan politik, teori dan pemikiran Huntington tersebut juga terwujud
nyata dalam penjajahan sungguhan negara Barat terhadap dunia Islam. Misalnya;
penjajahan Amerika dan sekutunya di Afghanistan, Irak dan sebagainya. Kekuatan
sebuah tulisan kadangkala juga bisa bernada fitnah atau propokasi sehingga bisa
mengajak kepada pertumpahan darah dan kehancuran. Misalnya; ”Ayat-Ayat Setan”
karya Salman Rushdi, seorang penulis keturunan Pakistan yang bermukim di
Inggris. Tulisannya pernah memancing kemarahan umat Islam di seluruh dunia,
penyebabnya adalah karena dalam bukunya tersebut ia menghina Muhammad Saw sang
Rasul umat Islam. Begitu juga Freddy S, seorang novelis yang menulis berbagai
novel seksual dan vulgar di nusantara yang banyak mengumbar nafsu syaithani. Novel-novelnya
tersebut sangat ampuh untuk menghancurkan moral dan akhlak generasi Islam dan
putra putri bangsa Indonesia secara umum.
Inilah sekilas gambaran singkat dahsyatnya kekuatan sebuah tulisan. Ia bisa
membawa kepada kebangkitan sebuah peradaban, atau sebaliknya kepada kehancuran
moral dan semua tatanan kehidupan umat manusia lainnya. Ketika tulisan-tulisan
yang mengajak kepada kebenaran menjadi minim maka tulisan-tulisan kehancuran
akan bertaburan dan menghancurkan.
Kekuatan ”Menulis” dalam Sejarah Islam
Menulis memiliki peran yang sangat urgent dalam sejarah kejayaan umat Islam
beberapa abad silam. Semua ulama yang menjadi arsitek peradaban dan kejayaan
Islam masa lalu adalah para penulis ulung yang telah menghasilkan berbagai buah
karya mereka yang sampai saat ini masih menjadi rujukan umat Islam sedunia
dalam berbagai disiplin keilmuan. Bahkan, Barat yang kemajuannya hari ini telah
jauh meninggalkan dunia Islam ternyata pernah mengekor pada kemajuan umat Islam
masa silam.
Dalam sejarah Islam, akan kita dapati
pakar-pakar keilmauan mayoritas adalah para ulama. Kedokteran, geografi, oftik,
kartografi, farmasi, kimia, astronomi, matematika, dan yang lainnya. Patut
untuk di banggakan, ketika Eropa di abad pertengahan hanya memiliki seorang
jenius bernama Leonardo da Vinci yang mumpuni dalam beberapa bidang keilmuan,
ternyata umat Islam memiliki puluhan tokoh yang memiliki multiple intelligence.
Sebagai contoh, kejeniusan Ibnu Sina dibidang kedokteran menghasilkan karya
menumental Al-Qanun Fi Ath-Thibbi, Asy-Syifa dan yang lainnya. Ibnu Rusyd yang
faham dengan sangat baik filsafat Yunani, sehingga mampu memberikan koreksi dan
catatan kaki atas kekeliruan yang ada didalam buku mereka ternyata juga seorang
faqih yang dari tangannya lahir Bidayah-Al-Mujtahid, sebuah rujukan
perbandingan madzhab dalam ilmu fiqih yang sampai sekarang tetap
diperhitungkan. Belum lagi Al-Khawarizmi pencipta Al-Jabar (ilmu
ukur/Matematika) yang fenomenal, Al-Haitsam Bapak ”optik” sekaligus penemu
Kamera Analog. Al-Idrisi bapak kartografi dari pulau Sisilia. Al-Biruni, Ibnu
Khaldun, dan tokoh-tokoh Islam lainnya.
Galileo yang terkenal dengan teleskopnya
ternyata kalah awal oleh ulama-ulama di Baghdad yang telah lebih dahulu
menciptakan observatorium untuk mengamati pergerakan dan fenomena bintang-
bintang. Al-kohol, al-kalin, sinus, kosinus, tangent, azimuth, natir dan
istilah-istilah lain dalam berbagai disiplin ilmu lahir dari rahim keilmuan
kaum muslimin. Begitu pula dibidang Fiqih, Hadits, Tafsir, Ilmu Kalam, dan
sebagainya. Semua itu hadir karena mereka memegang teguh tradisi keilmuan,
yaitu menulis disamping tradisi membaca pada sisi yang lain.
Dan berbagai kemunduran umat Islam dewasa
ini bisa dipastikan karena tradisi menulis setelah membaca yang pernah
dipopulerkan oleh para ulama masa lalu telah ditinggalkan. Umat Islam malas
”membaca dan menulis”. Melalui tulisan diyakini peradaban impian akan bisa
diraih. Melalui tulisan fakta mengatakan sebuah kemajuan akan bisa dicapai.
Melalui tulisan jelas kebenaran akan mudah tersampaikan.
Sampai disini, kita bisa membayangkan
bagaimana dahsyatnya kekuatan sebuah tulisan. Ia bisa menjadi senjata melawan
kezaliman ketika meriam telah dihancurkan, ketika senapan dan mesiu telah
tenggelam dalam lautan. Maka, adalah wajar jika di era ”Orde Baru” Soeharto
yang mantan presiden kita itu begitu gencar memberangus dan mengejar-ngejar
para penulis. Sebab, Soeharto meyakini kekuatan pena lebih dahsyat daripada
senapan, lebih tajam daripada ujung pedang. Maka, ketika kita ”malas menulis”
yang akan terjadi adalah berbagai ketimpangan dan bahkan penjajahan. Wallahu
a’lam bisshawab.
Sumber: Majalah Gaul Islam
*Disadur dan disesuaikan dari tulisan Teuku Zulkhairi
No comments:
Post a Comment
Silahkan tulis komentar anda